Rabu, 20 Juni 2012


MEMAAFKAN VS SAKIT HATI

Ini adalah cerita sebenarnya (diceritakan oleh Lu Di dan diedit oleh Lian Shu Xiang). Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga.
Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, segalanya sudah terlambat.


Sejak kecil suamiku telah kehilangan ayahnya, ibu yg membesarkan dan menyekolahkannya hingga tamat kuliah. Dia adalah satu-satunya harapan ibu.

Setelah 2 tahun menikah, aku dan suami setuju menjemput ibu di kampung untuk tinggal bersama. Kami segera menyiapkan sebuah kamar yang menghadap taman untuk ibu, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan sebagainya.

Suatu waktu, suamiku berdiri di depan kamar yang sangat kaya dengan sinar matahari tersebut. Tidak sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Tiba-tiba saja dia mengangkatku dan memutar-mutarku seperti adegan dalam film India dan berkata,"Mari, kita jemput ibu di kampung."

Suamiku berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yang bidang. Ada suatu perasaan nyaman dan aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yang kapan saja bisa diangkat dan dimasukkan ke dalam kantongnya.

Kalau terjadi selisih paham diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi dan memutar-mutarkudi atas kepalanya  dan baru diturunkan setelah aku berteriak ketakutan. Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.

Dan kemudian, tibalah hari itu, saat di mana kami menjemput ibu di kampung. Pikiran kami dipenuhi harapan untuk dapat menyenangkan ibu selama tinggal bersama kami. Bayangan-bayangan indahpun telah bermain di pelupuk mata kami. Tapi ternyata, harapan sangat jauh dari kenyataan.  Membawa ibu untuk menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah membuat kami mengkhianati ikrar cinta yang telah kami buat selama ini.

Perbedaan pandangan dan cara hidup menghasilkan percik-percik perselisihan antara aku dan ibu.

Hobiku yang senang menghias rumah dengan bunga segar, dianggap ibu sebagai bentuk pemborosan. Dia kerap mengingatkan aku untuk tidak lagi membeli bunga segar. Tapi aku kerap mengacuhkannya. Hingga kemudian, ibu yang sudah tidak tahan lagi, berkata kepada suamiku,"Istrimu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?" Aku menjelaskan kepada nenek,"Ibu, rumah dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira." Ibu berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa,"Ibu, ini kebiasaan orang kota, lambat laun Ibu akan terbiasa juga."

Ibu tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa bunga, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu. Setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Setiap membawa pulang barang belanjaan, dia selalu bertanya,"Itu berapa harganya?","Ini berapa?"Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras.

Suatu saat, hal ini aku adukan kepada suamiku. Suamiku memencet hidungku sambil berkata,"My princess, kamu khan bisa berbohong.Jangan katakan harga yang sebenarnya."

Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.

Ibu sangat tidak senang melihat suamiku bangun pagi dan menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya sendiri. Di mata ibu, seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan.

Di meja makan, wajah ibu selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Ibu selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan sendok untuk menunjukkan protesnya.

Pekerjaanku sebagai instruktur tari membuat badanku sangat letih setelah seharian bekerja.  Aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin.

Ibu kadang juga suka membantuku di dapur, tetapi makin dibantu membuatku semakin repot.

Salah satu kebiasaannya yang tidak kusukai adalah kegemarannya menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan. "Dikumpulkan untuk dijual lagi," katanya. Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan
kantong plastik, dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.

Kebiasaan nenek yang lain adalah mencuci piring bekas makan dengan tidak menggunakan cairan pencuci. Agar dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur.

Suatu malam, nenek mendapati aku sedang mencuci piring. Dia segera masuk ke kamar, membanting pintu dan menangis. Suamiku jadi serba salah. Malam itu kami tidur seperti orang bisu. Aku coba bermanja-manja dengannya, tetapi dia tidak perduli. Aku menjadi kecewa dan marah,"Apa salahku?" Dia melotot sambil berkata,"Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah makan dengan piring itu bisa membuatmu mati?" Dan malam itupun berlalu dengan keheningan namun dengan rasa sesak di dalam hati kami bertiga.

Kejadian malam itu membuat aku dan ibu tidak bertegur sapa untuk waktu yg cukup lama. Suasanapun menjadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada siapa.

Sejak saat itu, ibu tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur. Setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan. Suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap. Dengan sinar mata yang seakan mencemooh sewaktu melihat padaku, seakan berkata,"Dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?"

Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu, aku selalu membeli makanan di luar pada saat berangkat kerja. Tetapi ternyata hal ini mengusik suamiku. Suatu saat sebelum tidur, sambil memunggungiku, suamiku berkata,"Lu di, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?"  Dia terus berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku,"Anggaplah ini sebuah permintaanku,makanlah bersama kami setiap pagi."Aku mengiyakannya untuk kembali ke meja makan yg serba canggung itu.

Keesokannya paginya ibu menyajikan bubur untuk kami.  Tiba-tiba saat sedang makan, aku merasa sangat mual dan ingin muntah. Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi.

Setelah rasa mual itu agak reda, aku beranjak keluar dari kamar mandi. Aku melihat suamiku berdiri di depan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yang tajam. Di luar sana terdengar suara tangisan ibu sambil berkata-kata dengan bahasa daerahnya.

Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata. Sungguh bukan suatu kesengajaan aku berbuat demikian.

Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku.

Ibu melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh. Suamiku segera mengejarnya keluar rumah.

Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. Aku sangat kecewa. Semenjak kedatangan ibu di rumah ini, aku sudah banyak mengalah. Mau bagaimana lagi?

Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan, ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat menyebalkan.

Akhirnya aku menuruti saran teman sekerjaku untuk memeriksakan diri ke dokter di sebuah rumah sakit. Di luar perkiraanku, hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Ini menjelaskan rasa mual-mualku selama beberapa hari ini.

Sebuah berita gembira yang bercampur kesedihan.

Mengapa ibu sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?

Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku. Tiga hari tidak bertemu, dia berubah drastis. Mukanya  kusut seperti kurang tidur. Aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun danmemanggilnya. Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi. Pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku sendiri untuk jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi.

Padahal sebenarnya aku ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki bayi dan berharap dia  akan mengangkatku tinggi-tinggi dan memutar-mutarku sampai aku minta ampun.

Tetapi mimpiku tidak menjadi kenyataan. Di dalam taksi air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalahpahaman ini berakibat sangat buruk?

Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi. Memikirkan sinar matanya yang penuh dengan kebencian, aku menangis dengan sedihnya.

Saat tengah malam, aku mendengar suara orang membuka laci. Aku menyalakan lampu dan melihat
suamiku dengan wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah memutuskan untuk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikkan air mata.

Keesokan harinya aku memutuskan untuk tidak masuk kerja. Aku ingin secepatnya membereskan masalah ini. Aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantor.

Di kantor, aku bertemu dengan seketarisnya yang melihatku dengan wajah bingung. Dia menjelaskan,"Ibu pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit."
Mulutku terbuka lebar mendengar berita yang mengagetkan itu.

Aku segera menuju rumah sakit. Saat menemukannya, ibu sudah meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku.

Aku memandang jasad ibu yang terbujur kaku. Sambil menangis aku menjerit dalam hati,"Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"

Sampai upacara pemakaman selesai, suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku. Jika dia memandangku, selalu dengan pandangan penuh kebencian.

Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain. Pagi itu ibu berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, ibu juga berlari makin cepat, sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang.

Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian.

Jika saja aku tidak muntah pagi itu.... Jika saja kami tidak bertengkar.  Jika....

Di matanya, akulah penyebab kematian ibu.

Suamiku kemudian pindah ke kamar ibu. Setiap malam sepulang kerja, badannya penuh dengan
bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, membuat aku mengurungkan niatku. Aku tidak pernah menjelaskan masalah ini.

Waktu berlalu dengan sangat lambat. Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang makin larut malam. Suasana rumahpun semakin dingin.

Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café. Melalui keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita di dalam. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa yang telah terjadi. Aku masuk ke dalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam ke arahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu, tetapi dicegah oleh suamiku. Dia menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yang tidak kalah tajam dariku. Suara detak jantungku terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian. Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka. Jika tidak, mungkin aku akan jatuh bersama calon bayiku di hadapan mereka.

Malam itu dia tidak pulang ke rumah, seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi. Sepeninggal ibu, rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir.

Malam-malam berlalu, dia tidak kembali ke rumah.

Kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar. Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya.

Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi..., semua berlalu begitu saja.

Aku mulai hidup seorang diri, memeriksakan kandungan juga seorang diri.

Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang  memeriksakan kandungan, hatiku serasa hancur.

Teman- teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti orang histeris mempertahankan milikku. Ini adalah sebagai pembuktian kepada ibu bahwa aku tidak bersalah.

Suatu hari pulang kerja, aku melihat dia duduk di depan ruang tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas di atas meja. Tanpa perlu bertanya, aku sudah tahu apa isi surat itu. Selama 2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya,"Tunggu sebentar, aku akan segera menandatanganinya."

Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan, demikian juga aku. Aku berkata pada diri sendiri
,"Jangan menangis, jangan menangis." Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.

Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yang agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menandatangani surat itu dan menyodorkan kepadanya. Dengan nada ragu-ragu, dia bertanya,"Lu di, kamu hamil....???"

Semenjak ibu meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku.

Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg mengalir keluar dengan derasnya. Aku menjawab,"Iya,  tetapi tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi."

Tapi dia tidak pergi. Entah apa yang berkecamuk di dalam pikirannya. Dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia merebahkan badannya ke lenganku. Air matanya terasa menembus lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa kembali. Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata,"Maafkan aku, maafkan aku."

Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan. Di antara cinta kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya. Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadap suamiku,hatiku dingin bagaikan es. Aku tidak pernah menyentuh semua makanan pembeliannya. Aku tidak sudi lagi menerima semua hadiah pemberiannya. Aku juga tidak berbicara lagi dengannya.

Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.

Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, tapi aku segera berlalu ke ruang tamu, dan dia terpaksa kembali ke kamar ibu.

Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa..., itu adalah dulu, saat cintaku masih membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?

Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang.

Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar.

Malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer, diselingi dengan erangan kesakitan. "Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya," pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.

Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yang keras. Dia segera berlari masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan dibawa dengan taxi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yang mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit,aku segera digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yang kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?
Sampai di pintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang. Saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Inilah saatnya aku memutuskan untuk memaafkannya. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang tangannya. Dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum, dan menangis lalu tiba-tiba terjerambab ke lantai.

Aku berteriak histeris memanggil namanya.

Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya....

Aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya. Tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit saat ini.

Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjizat. Menurut dokter, kanker itu sudah terdeteksi sejak 5 bulan yang lalu dan dokter memintaku untuk bersiap- siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Aku tidak lagi peduli dengan nasihat perawat. Aku segera pulang ke rumah dan menyalakan komputer di kamar ibu.

Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku salah berpikir dia sedang bersandiwara….

Sebuah surat yang sangat panjang ada di dalam komputer yang ditujukan kepada anak kami.
"Anakku, demi dirimu aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku.Aku tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan.Sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Di dalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasihat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkansaran ayah. Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun-tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu,dia sungguh menderita,dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yang paling ayah cintai."

Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK, SD, SMP, SMA, sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya.

Dia juga menulis sebuah surat untukku,"Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yang paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku.Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini.
Aku tidak punya kesempatan untuk memberikan  hadiah-hadiah ini pada anak kita. Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya."

Air mataku tak kunjung berhenti saat membaca surat itu. Aku menyesali kekerasan hatiku selama ini.

Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak kami dan membaringkannya di atas dadanya sambil berkata,"Sayang, bukalah matamu sebentar saja,lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya."

Dengan susah payah dia membuka matanya dan tersenyum. Anak itu tetap dalam dekapannya. Tangannya yang mungil memegangi tangan ayahnya yang kurus dan lemah. Aku tidak tahu sudah berapa kali aku menjepret momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata....


Teman-teman terkasih, aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua bisa menyimak pesan dari cerita ini. Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, tapi ingatlah pesan dari cerita ini:
"Jika ada sesuatu yang mengganjal di hati di antara kalian yang saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah. Jangan simpan di dalam hati. Siapa tahu apa yg akan terjadi besok?"

Ada sebuah pertanyaan: Jika kita tahu besok adalah hari kiamat,apakah kita akan menyesali semua hal yang telah kita perbuat? Atau apa yg telah kita ucapkan?

Sebelum segalanya menjadi terlambat, pikirlah matang-matang semua yang akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.
Sumber : www.dunianlp.com

Minggu, 17 Juni 2012

Cara Memperbaiki Hardisk

Advertisement
Salah satu penyebab dari komputer sering hang, komputer restart sendiri dan terjadinya tampilan bluescreen adalah terdapatnya masalah / kerusakan pada hardisk komputer.

Kerusakan pada hardisk ini diantaranya disebabkan karena sering dimatikannya komputer tanpa perintah shutdown dan karena gangguan pada aliran listrik seperti matinya listrik secara tiba-tiba atau terjadinya lonjakan pada tegangan listrik seperti yang biasa terjadi ketika adanya petir saat hujan.

Selain itu faktor usia (lifetime) dari hardisk itu sendiri juga merupakan hal yang dapat mempengaruhi performa dari hardisk. Dalam kesempatan ini saya akan berbagi informasi mengenai Cara Memperbaiki Hardisk menggunakan Perintah Checkdisk/ CHKDSK.EXE.

hardisk

Checkdisk merupakan tool bawaan Windows yang dapat kita gunakan untuk menguji dan memperbaiki kondisi hardisk. Menjalankan perintah Checkdisk secara rutin juga merupakan salah satu cara untuk merawat dan meningkatkan kinerja komputer.  Umumnya cukup dengan perintah Checkdisk / CHKDSK ini kita sudah dapat memperbaiki keruksakan pada hardisk seperti bad sector, lost clusters, cross-linked files, dan directory errors. Perintah Checkdisk dapat kita jalankan dengan 2 cara yaitu lewat Command Promt dan lewat My Computer atau Windows Explorer.

1. Menjalankan perintah CHKDSK pada Command Prompt.
  • Pada tampilan Command Prompt ketik perintah: CHKDSK D:
    Perintah tersebut akan menjalankan CHKDSK pada Drive D dalam mode read-only.
  • Ketikkan perintah: CHKDSK D:/F
    Perintah tersebut digunakan untuk merepair error tanpa melakukan scanning bad sector.
  • Ketikkan perintah: CHKDSK D:/R
    Perintah tersebut digunakan untuk merepair error, menemukan bad sector dan me-recover data.
2. Menjalankan perintah CHKDSK pada My Computer atau Window Explorer.
  • Buka Windows Explorer, atau My Computer.
  • Klik kanan pada hardisk yang akan di-cek, klik Properties.
  • Klik tab Tools, pada pilihan Error Checking klik Check Now..
  • Jendela Check disk option akan tampil.

    cara memperbaiki hardisk
    • Untuk menjalankan Chkdsk pada mode read-only mode, klik Start.
    • Untuk merepair error pada file system, check Automatically fix file system errors,
    • Untuk merepair error, menemukan bad sector dan me-recover data pilih Scan for and attempt recovery of bad sectors,
    • Anda juga dapat mencentang kedua pilihan tersebut apabila diperlukan.
  • Apabila muncul pesan : Chkdsk cannot run because the volume is in use by another process.  Chkdsk may run if this volume is dismounted first. ALL OPENED HANDLES TO THIS VOLUME WOULD THEN BE INVALID. Would you like to force a dismount on this volume? (Y/N) ketik Y dan Enter.
  • Apabila muncul pesan:  Chkdsk cannot run because the volume is in use by another process. Would you like to schedule this volume to be checked the next time the system restarts? (Y/N) Ketik Y, dan ENTER lalu restart komputer untuk menjalankan Scandisk.
Untuk memperbaiki hardisk menggunakan utility Checkdisk/perintah CHKDSK ini ada beberapa metode yang bisa kita lakukan, yaitu:
  1. Apabila komputer masih bisa booting dan login ke windows maka kedua cara untuk menjalankan CHKDSK.EXE tersebut diatas (melalui command prompt maupun Windows Explorer) dapat kita lakukan.
  2. Apabila Hardisk tidak bisa booting, maka kita harus mengambil hardisk tersebut dan memasangnya  pada komputer yang lain, baru kemudian menjalankan perintah Checkdisk/CHKDSK.
  3. Menggunakan CD Setup Windows dan jalankan perintah CHKDSK melalui Menu Recovery Console..
  4. Menggunakan CD UBCD4WIN. Caranya klik Start - Program - Disk Tools - Diagnostic, klik Check Disk.
Demikianlah cara memperbaiki hardisk menggunakan utility bawaan Windows: Checkdisk/CHKDSK.EXE ini, dan dari beberapa pengalaman saya sendiri dalam memperbaiki komputer, tool ini terbukti cukup efektif untuk menangani keruksakan pada hardisk. Pada kesempatan berikutnya saya akan mencoba mengulas tentang cara memperbaiki hardisk bad sektor. Semoga bisa membantu..

Read more: http://www.catatanteknisi.com/2010/05/cara-memperbaiki-hardisk.html#ixzz1y6rfWZGH

Menghilangkan Virus dan Mengembalikan Data di Flash Disk

15 09 2007 Makin meningkatnya penggunaan flash disk, membuat pembuat virus mengalihkan sasarannya ke media penyimpanan yang simple tersebut, bukan hanya menanamkan virus tetapi juga efek yang dihasilkan beraneka ragam, salah satunya isi yang ada di flash disk, seperti file atau folder disembunyikan (Hidden).
Gimana cara menanggulangi kasus tersebut? , coba ikuti langkah-langkah di bawah ini :
Menghilangkan virus
Langkah Pertama
1.Pastikan antivirus terupdate
2.Masukkan flash disk ke PC atau Laptop
3.Jangan membuka kotak dialog yang muncul ketika flash disk dimasukkan ke PC atau laptop.
Langkah kedua
1.Buka windows Explorer atau My Computer
2.Klik kanan mouse di posisi drive flash disk,biasanya F:
3.Kemudian pilih scan virus sesuai anti virus yang digunakan
(“ingat”, biasakan antivirus terupdate)
Mengembalikan data
Setelah virus benar-benar hilang dari flash disk, sekarang saatnya mengembalikan data yang disembunyikan (Hidden). Berikut langkah-langkahnya:
1.Buka Command Prompt, bisa dengan cara klik Start – Run- ketik cmd atau command (untuk Windows 98/ME).
2.Setelah terbuka jendela command prompt,kemudian ketik attrib -h -r -s -a /s /d f:
(dengan catatan berada di drive C, sebagai contoh; C:\Documents and Settings\test> attrib -h -r -s -a /s /d f: )
3.Lalu setelah perintah tersebut diketikkan,kemudian enter.
4.Apabila langkah no.2 tidak berhasil, anda pindahkan posisinya dari drive C ke drive flash disk (biasanya F), untuk memindahkan posisi drive, ikuti langkah berikut, apabila posisi flash disk di komputer atau laptop ada di drive F, maka (sebagai contoh);C:\Documents and Settings\test> F: kemudian enter maka akan pindah ke drive F:\>
5.Setelah berada di posisi drive flash disk kemudian ketik perintah yang sama dengan langkah no.2, namun untuk f: yang berada di belakang dihilangkan, sebagai contoh :
F:\> attrib -h -r -s -a /s /d , kemudian enter.
6.Sesudah proses tersebut, sekarang coba cek folder atau file yang ada di flash disk.

Selasa, 10 April 2012

Manakala Hidupmu Tampak Susah Untuk Dijalani...

 
Seorang professor berdiri di depan
kelas filsafat dan mempunyai
beberapa barang di depan mejanya.

Saat kelas dimulai, tanpa
mengucapkan sepatah kata, dia
mengambil sebuah toples mayones
kosong yang besar dan mulai mengisi
dengan bola-bola golf.

Kemudian dia berkata pada para
muridnya, apakah toples itu sudah
penuh? Mahasiswa menyetujuinya.

Kemudian professor mengambil sekotak
batu koral dan menuangkannya ke
dalam toples. Dia mengguncang dengan
ringan. Batu-batu koral masuk,
mengisi tempat yang kosong di antara
bola-bola golf.

Kemudian dia bertanya pada para
muridnya, Apakah toples itu sudah
penuh? Mereka setuju bahwa toples
itu sudah penuh.

Selanjutnya profesor mengambil
sekotak pasir dan menebarkan ke
dalam toples...

Tentu saja pasir itu menutup segala
sesuatunya. Profesor sekali lagi
bertanya apakah toples sudah penuh?

Para murid dengan suara bulat
berkata, "Yaa!"

Profesor kemudian menyeduh dua
cangkir kopi dari bawah meja dan
menuangkan isinya ke dalam toples,
dan secara efektif mengisi ruangan
kosong di antara pasir.

Para murid tertawa...

"Sekarang," kata profesor ketika
suara tawa mereda, "Saya ingin
kalian memahami bahwa toples ini
mewakili kehidupanmu.
"

"Bola-bola golf adalah hal-hal yang
penting - Tuhan, keluarga, anak-anak,
kesehatan, teman dan para
sahabat. Jika segala sesuatu hilang
dan hanya tinggal mereka, maka
hidupmu masih tetap penuh.
"

"Batu-batu koral adalah segala hal
lain, seperti pekerjaanmu, rumah
dan mobil.
"

"Pasir adalah hal-hal yang lainnya
- hal-hal yg sepele.
"

"Jika kalian pertama kali memasukkan
pasir ke dalam toples,
"  lanjut
profesor, "Maka tidak akan tersisa
ruangan untuk batu koral ataupun
untuk bola-bola golf. Hal yang sama
akan terjadi dalam hidupmu
."

"Jika kalian menghabiskan energi
untuk hal-hal sepele, kalian tidak
akan mempunyai ruang untuk hal-hal
yang penting buat kalian
"

"Jadi..."

"Berilah perhatian untuk hal-hal
yang kritis untuk kebahagiaanmu.
Bermainlah dengan anak-anakmu.
Luangkan waktu untuk check up
kesehatan.


Ajak pasanganmu untuk keluar makan
malam. Akan selalu ada waktu untuk
membersihkan rumah, dan memperbaiki
mobil atau perabotan.
"

"Berikan perhatian terlebih dahulu
kepada bola-bola golf - Hal-hal
yang benar-benar penting. Atur
prioritasmu. Baru yang terakhir,
urus pasir-nya
."

Salah satu murid mengangkat tangan
dan bertanya, "Kalau Kopi yg
dituangkan tadi mewakili apa?"

Profesor tersenyum, "Saya senang
kamu bertanya. Itu untuk menunjukkan
kepada kalian, sekalipun hidupmu
tampak sudah begitu penuh, tetap
selalu tersedia tempat untuk
secangkir kopi bersama sahabat"
:-)
 
---------------------
Tulisan di atas disaring dari "google bottle".

Selasa, 27 Maret 2012




"Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu.”
(Bil 21:4-9; Yoh 8:21-30)
“ Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang." Maka kata orang-orang Yahudi itu: "Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?" Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." Maka kata mereka kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Jawab Yesus kepada mereka: "Apakah gunanya lagi Aku berbicara dengan kamu? Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia." Mereka tidak mengerti, bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Bapa. Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya." Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya” (Yoh 8:21-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Dialog atau percakapan antara Yesus dengan orang banyak sebagaimana dikisahkan dalam Warta Gembira hari sungguh menarik untuk direfleksikan atau direnungkan. Yesus semakin menyingkapkan Jati DiriNya dan banyak orang pun kemudian menjadi percaya kepadaNya. Semakin mengetahui dan memahami semakin percaya pula, itulah yang terjadi. Cukup banyak orang masa kini mengetahui banyak hal, namun mereka tidak mempercayainya, artinya tidak menghayati atau melaksanakan apa yang mereka ketahui. Pengetahuan hanya sebatas dalam otak atau pikiran, tetapi tidak merasuk di hati menjiwai cara hidup dan cara bertindak. Telah beberapa minggu/hari kita diajak untuk mawas diri selama masa Prapaska ini dan perayaan puncak iman kita, wafat dan kebangkitan Yesus, semakin mendekat, maka marilah kita mawas diri apakah kita semakin percaya kepada Tuhan, semakin mengutamakan Tuhan dalam cara hidup dan cara bertindak kita. Hal ini secara konkret berarti dalam cara hidup dan cara bertindak kita lebih menunjukkan penghayatan iman, hidup dan bertindak dijiwai oleh Tuhan daripada hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi. Sebagai orang yang telah dibaptis kita semakin mengabdi Tuhan dan selalu menolak godaan setan, sebagai suami-isteri berarti semakin mantap dan mendalam dalam saling mengasihi, sebagai anggota lembaga hidup bakti semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan, sebagai pelajar semakin terampil belajar, sebagai pekerja semakin terampil bekerja, dst..
·   Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.” (Bil 21:9). Ular tembaga disini bagi kita yang beriman kepada Yesus menunjuk pada Dia yang tergantung di kayu salib. Di dalam hidup dan kerja kita setiap hari kita sering menghadapi aneka masalah, tantangan, hambatan dst.. yang membuat kita dengan mudah untuk menggerutu atau putus asa. Jika anda mengalami hal yang demikian itu kami persilahkan dengan rendah hati dan penuh hormat memandang Yesus yang tergantung di kayu salib, karena dengan demikian anda pasti akan digairahkan dalam menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Penderitaan yang kita alami selama di dunia ini tidak sebanding atau hanya kecil sekali jika dibandingkan dengan penderitaan Yesus, yang kita imani. Masalah, tantangan dan hambatan yang muncul dari kesetiaan dan ketaatan hendaknya dihadapi bersama Dia yang tergantung di kayu salib, dengan kata lain buatlah tanda salib dengan penuh hormat dan khidmat serta penyerahan diri sebelum mengolah dan memecahkan aneka masalah, tantangan dan hambatan. “Dalam semangat iman kristiani kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”, demikian kurang lebih isi pokok kegiatan atau usaha aneka anggota LSM Kristen atau Katolik. Kami percaya di kamar-kamar rumah anda atau tempat kerja anda dipasang salib di tembok atau bahkan ada salib diletakkan di meja kerja anda, maka baiklah apa yang anda kerjakan dan omongkan selama berada di kamar tersebut sungguh dijiwai oleh  Yang Tersalib. Semoga salib yang ada di ruangan atau kamar tempat anda hidup atau bekerja tidak hanya menjadi hiasan saja, melainkan sungguh menjiwai siapapun yang ada di dalam ruangan atau kamar tersebut. Apapun yang anda lakukan atau omongkan di dalam  kamar atau ruangan, meskipun tak diketahui orang lain, namun Tuhan tahu segalanya.
TUHAN, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu. Janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku pada hari aku tersesak. Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku; pada hari aku berseru, segeralah menjawab aku” (Mzm 102:2-3)
 
 
Sumber : Ign 27 Maret 2012

Rabu, 21 Maret 2012

Wanita Indonesia Nenek Moyang Penduduk Madagaskar


Paris (AFP/ANTARA) - Beberapa perempuan Indonesia menjadi pendiri dari koloni Madagaskar 1.200 tahun yang lalu, ujar para peneliti pada Rabu akan salah satu episode aneh dalam sejarah pengembaraan manusia.

Antropolog banyak yang terpesona dengan Madagaskar, karena pulau itu jauh dari sejarah penaklukan manusia di planet ini selama ribuan tahun.

Pulau itu kemudian menjadi tempat tinggal bagi penduduk asli Afrika serta orang Indonesia, yang terletak 8.000 kilometer dari Madagaskar.

Sebuah tim yang dipimpin oleh ahli biologi molekuler Murray Cox dari Massey University, Selandia Baru, meneliti DNA penduduk Madagaskar demi mencari petunjuk atas penjelasan teka-teki imigrasi tersebut.

Mereka mencari ciri-ciri yang diturunkan kromosom melalui garis ibu, dengan contoh DNA yang diambil dari 266 orang yang berasal dari tiga kelompok etnis Malagasi.

Dua puluh dua persen dari DNA itu memiliki variasi dari "motif Polinesia," karakteristik gen yang ditemukan di penduduk Polinesia, tapi sangat jarang ada di bagian barat Indonesia. Di salah satu kelompok entis Malagasi, satu dari dua orang memiliki karakteristik ini.

Jika hasil itu benar, maka sekitar 30 perempuan Indonesia menjadi pendiri dari populasi Malagasi "dengan kontribusi yang lebih kecil, tapi sama pentingnya, dengan yang berasal dari Afrika," ujarnya.

Penelitian itu berfokus kepada DNA mitokondria, yang diturunkan melalui ibu, jadi masih ada kemungkinan ada beberapa pria Indonesia yang tiba bersamaan dengan para wanita pertama itu.

Simulasi komputer menunjukan kalau pemukiman dimulai sekitar 830 AD, saat Indonesia sedang mengembangkan jalur perdagangan di bawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya di Sumatra.

Penelitian itu juga menunjukan kontribusi lain dari Asia Tenggara.

Secara linguistik, penduduk Madagaskar berbicara dengan dialek yang bila ditelurusi berasal dari Indonesia.

Kebanyakan leksikon, daftar istilah sesuai abjad, berasal dari bahasa Maanyan, bahasa yang digunakan di daerah lembah Sungai Barito di tenggara Kalimantan -- daerah pedalaman yang terpencil dengan beberapa tambahan dari bahasa Jawa, Melayu atau Sansekerta.

Bukti lain dari kependudukan Indonesia itu datang dari penemuan perahu cadik, peralatan besi, alat musik seperti gambang dan "kebudayaan makanan-makanan tropis" seperti budidaya nasi, pisang, ubi jalar dan talas yang dibawa dari seberang lautan.

"Madagaskar mulai ditempati sekitar 1.200 tahun lalu, terutama oleh sekelompok kecil perempuan Indonesia, dan kontribusi Indonesia -- seperti bahasa, budaya dan gen -- terus berlanjut mendomniasi Madagaskar sampai saat ini," ujar laporan tersebut.

Bagaimana cara 30 wanita itu menyebrangi Samudra Hindia untuk sampai ke Madagaskar masih menjadi misteri.

Salah satu teori menyebutkan kalau mereka datang dengan kapal pedagang, meski belum ditemukan bukti kalau wanita ikut dalam pelayaran panjang di kapal pedagang Indonesia.

Teori lain menyebutkan kalau Madagaskar dimulai dari koloni pedagang resmi, atau mungkin menjadi pusat pelarian pengungsi yang kehilangan tanah dan kekuatan di masa ekpansi wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Tapi hipotesa ketiga  dan yang paling berani menyebutkan kalau para wanita tersebut berada di kapal itu karena melakukan pelayaran antar samudra secara kebetulan. Pemikiran itu didukung oleh simulasi pelayaran menggunakan indikasi arus laut dan pola cuaca musim monsun, ujar tim Cox.

Memang, di Perang Dunia II, bangkai kapal yang dibom di dekat Sumatra dan Jawa terdampar di Madagaskar, bahkan dalam satu kasus, ada seorang penumpang selamat dalam sekoci penyelamat.

Penelitian itu dipublikasikan oleh jurnal Inggris, Proceedings of the Royal Society B.

Sumber yahoo.

Senin, 19 Maret 2012

Renungan

“Orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus karena Ia melakukan hal itu pada hari Sabat.”
(Yeh 47:1-9.12; Yoh 5:1-16)
Sesudah itu ada hari raya orang Yahudi, dan Yesus berangkat ke Yerusalem. Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani disebut Betesda; ada lima serambinya  dan di serambi-serambi itu berbaring sejumlah besar orang sakit: orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh, yang menantikan goncangan air kolam itu. Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya. Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit. Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?" Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku." Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat. Karena itu orang-orang Yahudi berkata kepada orang yang baru sembuh itu: "Hari ini hari Sabat dan tidak boleh engkau memikul tilammu." Akan tetapi ia menjawab mereka: "Orang yang telah menyembuhkan aku, dia yang mengatakan kepadaku: Angkatlah tilammu dan berjalanlah." Mereka bertanya kepadanya: "Siapakah orang itu yang berkata kepadamu: Angkatlah tilammu dan berjalanlah?" Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu. Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." Orang itu keluar, lalu menceriterakan kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesuslah yang telah menyembuhkan dia.Dan karena itu orang-orang Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.” (Yoh 5:1-16), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Hari Sabat adalah hari yang secara khsusus dipersembahkan kepada Tuhan, dan bagi orang Yahudi hari ini adalah hari istirahat, tidak boleh bekerja dan tidak boleh bepergian jauh. Memang di dalam agama-agama atau keyakinan iman ada kebiasaan-kebiasaan atau tradisi-tradisi yang harus ditaati dan dilaksanakan demi keselamatan jiwa (di Bali misalnya pada hari Nyepi tidak boleh bepergian dari rumah dan tidak boleh menyalakan api). Yang utama adalah keselamatan jiwa bukan tradisi atau kebiasaan, maka ketika ada orang yang bertahun-tahun menderita sakit mohon kepada Yesus untuk disembuhkan Ia melakukannya. Bagi orang-orang Yahudi hal ini berarti melanggar aturan hari Sabat, maka ada alasan bagi mereka untuk menganiaya atau menyingkirkan Yesus. Hidup dan bertindak dengan pedoman demi keselamatan jiwa memang sering sulit dipahami oleh orang-orang yang berpegang teguh pada aturan dan tata tertib.  Ada tiga tingkatan norma: sopan santun -> hukum -> moral, dan yang tertinggi adalah norma moral. Sebagai orang beriman yang dipanggil untuk hidup dan bertindak dalam dan oleh iman, hemat saya harus berpedoman pada norma-norma moral. Memang orang yang dapat berpedoman pada norma moral pada umumnya juga tidak mengalami masalah dalam penghayatan norma sopan santun maupun norma hukum artinya mereka juga melaksanakan dengan baik norma-norma tersebut dalam situasi yang normal. Norma moral memang sering lebih fungsional dalam situasi yang tidak normal atau situasi khusus.
·   "Sungai ini mengalir menuju wilayah timur, dan menurun ke Araba-Yordan, dan bermuara di Laut Asin, air yang mengandung banyak garam dan air itu menjadi tawar, sehingga ke mana saja sungai itu mengalir, segala makhluk hidup yang berkeriapan di sana akan hidup. Ikan-ikan akan menjadi sangat banyak, sebab ke mana saja air itu sampai, air laut di situ menjadi tawar dan ke mana saja sungai itu mengalir, semuanya di sana hidup” (Yeh 47:8-9). Kutipan ini mengingatkan kita semua akan fungsi air, yang dalam tradisi agama-agama sering digunakan sebagai sarana untuk menyalurkan berkat atau rahmat Allah. Sebagian besar tubuh kita juga terdiri dari air, air putih biasa juga dapat menjadi penyalur tenaga listrik (dalam tubuh kita maupun listrik pada umumnya). Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak anda sekalian untuk melestarikan sumber-sumber air, antara lain menjaga dan merawat lingkungan hidup dengan tidak serakah membabati hutan atau menebangi pohon-pohon, membuat sumur-sumur resapan di tempat tinggal atau kerja masing-masing untuk menampung air hujan, dst.. Tidak kalah penting adalah penghematan pemakaian air, maupun menutupi tanah-tanah resapan air hujan dengan pembetonan maupun pengaspalan. Pemanasan global yang sedang terjadi saat ini dengan segala akibatnya, antara kekacauan cuaca, banjir bandang, badai ,dst..menunjukkan keserakahan manusia dalam mengeruk isi bumi seenaknya, demi keuntungan diri sendiri.
TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (Mzm 145:8-9)
Sumber Ign 20 Mar 2012