Rabu, 20 Juni 2012


MEMAAFKAN VS SAKIT HATI

Ini adalah cerita sebenarnya (diceritakan oleh Lu Di dan diedit oleh Lian Shu Xiang). Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga.
Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, segalanya sudah terlambat.


Sejak kecil suamiku telah kehilangan ayahnya, ibu yg membesarkan dan menyekolahkannya hingga tamat kuliah. Dia adalah satu-satunya harapan ibu.

Setelah 2 tahun menikah, aku dan suami setuju menjemput ibu di kampung untuk tinggal bersama. Kami segera menyiapkan sebuah kamar yang menghadap taman untuk ibu, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan sebagainya.

Suatu waktu, suamiku berdiri di depan kamar yang sangat kaya dengan sinar matahari tersebut. Tidak sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Tiba-tiba saja dia mengangkatku dan memutar-mutarku seperti adegan dalam film India dan berkata,"Mari, kita jemput ibu di kampung."

Suamiku berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yang bidang. Ada suatu perasaan nyaman dan aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yang kapan saja bisa diangkat dan dimasukkan ke dalam kantongnya.

Kalau terjadi selisih paham diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi dan memutar-mutarkudi atas kepalanya  dan baru diturunkan setelah aku berteriak ketakutan. Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.

Dan kemudian, tibalah hari itu, saat di mana kami menjemput ibu di kampung. Pikiran kami dipenuhi harapan untuk dapat menyenangkan ibu selama tinggal bersama kami. Bayangan-bayangan indahpun telah bermain di pelupuk mata kami. Tapi ternyata, harapan sangat jauh dari kenyataan.  Membawa ibu untuk menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah membuat kami mengkhianati ikrar cinta yang telah kami buat selama ini.

Perbedaan pandangan dan cara hidup menghasilkan percik-percik perselisihan antara aku dan ibu.

Hobiku yang senang menghias rumah dengan bunga segar, dianggap ibu sebagai bentuk pemborosan. Dia kerap mengingatkan aku untuk tidak lagi membeli bunga segar. Tapi aku kerap mengacuhkannya. Hingga kemudian, ibu yang sudah tidak tahan lagi, berkata kepada suamiku,"Istrimu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?" Aku menjelaskan kepada nenek,"Ibu, rumah dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira." Ibu berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa,"Ibu, ini kebiasaan orang kota, lambat laun Ibu akan terbiasa juga."

Ibu tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa bunga, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu. Setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Setiap membawa pulang barang belanjaan, dia selalu bertanya,"Itu berapa harganya?","Ini berapa?"Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras.

Suatu saat, hal ini aku adukan kepada suamiku. Suamiku memencet hidungku sambil berkata,"My princess, kamu khan bisa berbohong.Jangan katakan harga yang sebenarnya."

Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.

Ibu sangat tidak senang melihat suamiku bangun pagi dan menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya sendiri. Di mata ibu, seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan.

Di meja makan, wajah ibu selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Ibu selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan sendok untuk menunjukkan protesnya.

Pekerjaanku sebagai instruktur tari membuat badanku sangat letih setelah seharian bekerja.  Aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin.

Ibu kadang juga suka membantuku di dapur, tetapi makin dibantu membuatku semakin repot.

Salah satu kebiasaannya yang tidak kusukai adalah kegemarannya menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan. "Dikumpulkan untuk dijual lagi," katanya. Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan
kantong plastik, dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.

Kebiasaan nenek yang lain adalah mencuci piring bekas makan dengan tidak menggunakan cairan pencuci. Agar dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur.

Suatu malam, nenek mendapati aku sedang mencuci piring. Dia segera masuk ke kamar, membanting pintu dan menangis. Suamiku jadi serba salah. Malam itu kami tidur seperti orang bisu. Aku coba bermanja-manja dengannya, tetapi dia tidak perduli. Aku menjadi kecewa dan marah,"Apa salahku?" Dia melotot sambil berkata,"Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah makan dengan piring itu bisa membuatmu mati?" Dan malam itupun berlalu dengan keheningan namun dengan rasa sesak di dalam hati kami bertiga.

Kejadian malam itu membuat aku dan ibu tidak bertegur sapa untuk waktu yg cukup lama. Suasanapun menjadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada siapa.

Sejak saat itu, ibu tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur. Setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan. Suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap. Dengan sinar mata yang seakan mencemooh sewaktu melihat padaku, seakan berkata,"Dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?"

Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu, aku selalu membeli makanan di luar pada saat berangkat kerja. Tetapi ternyata hal ini mengusik suamiku. Suatu saat sebelum tidur, sambil memunggungiku, suamiku berkata,"Lu di, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?"  Dia terus berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku,"Anggaplah ini sebuah permintaanku,makanlah bersama kami setiap pagi."Aku mengiyakannya untuk kembali ke meja makan yg serba canggung itu.

Keesokannya paginya ibu menyajikan bubur untuk kami.  Tiba-tiba saat sedang makan, aku merasa sangat mual dan ingin muntah. Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi.

Setelah rasa mual itu agak reda, aku beranjak keluar dari kamar mandi. Aku melihat suamiku berdiri di depan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yang tajam. Di luar sana terdengar suara tangisan ibu sambil berkata-kata dengan bahasa daerahnya.

Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata. Sungguh bukan suatu kesengajaan aku berbuat demikian.

Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku.

Ibu melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh. Suamiku segera mengejarnya keluar rumah.

Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. Aku sangat kecewa. Semenjak kedatangan ibu di rumah ini, aku sudah banyak mengalah. Mau bagaimana lagi?

Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan, ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat menyebalkan.

Akhirnya aku menuruti saran teman sekerjaku untuk memeriksakan diri ke dokter di sebuah rumah sakit. Di luar perkiraanku, hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Ini menjelaskan rasa mual-mualku selama beberapa hari ini.

Sebuah berita gembira yang bercampur kesedihan.

Mengapa ibu sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?

Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku. Tiga hari tidak bertemu, dia berubah drastis. Mukanya  kusut seperti kurang tidur. Aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun danmemanggilnya. Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi. Pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku sendiri untuk jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi.

Padahal sebenarnya aku ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki bayi dan berharap dia  akan mengangkatku tinggi-tinggi dan memutar-mutarku sampai aku minta ampun.

Tetapi mimpiku tidak menjadi kenyataan. Di dalam taksi air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalahpahaman ini berakibat sangat buruk?

Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi. Memikirkan sinar matanya yang penuh dengan kebencian, aku menangis dengan sedihnya.

Saat tengah malam, aku mendengar suara orang membuka laci. Aku menyalakan lampu dan melihat
suamiku dengan wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah memutuskan untuk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikkan air mata.

Keesokan harinya aku memutuskan untuk tidak masuk kerja. Aku ingin secepatnya membereskan masalah ini. Aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantor.

Di kantor, aku bertemu dengan seketarisnya yang melihatku dengan wajah bingung. Dia menjelaskan,"Ibu pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit."
Mulutku terbuka lebar mendengar berita yang mengagetkan itu.

Aku segera menuju rumah sakit. Saat menemukannya, ibu sudah meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku.

Aku memandang jasad ibu yang terbujur kaku. Sambil menangis aku menjerit dalam hati,"Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"

Sampai upacara pemakaman selesai, suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku. Jika dia memandangku, selalu dengan pandangan penuh kebencian.

Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain. Pagi itu ibu berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, ibu juga berlari makin cepat, sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang.

Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian.

Jika saja aku tidak muntah pagi itu.... Jika saja kami tidak bertengkar.  Jika....

Di matanya, akulah penyebab kematian ibu.

Suamiku kemudian pindah ke kamar ibu. Setiap malam sepulang kerja, badannya penuh dengan
bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, membuat aku mengurungkan niatku. Aku tidak pernah menjelaskan masalah ini.

Waktu berlalu dengan sangat lambat. Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang makin larut malam. Suasana rumahpun semakin dingin.

Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café. Melalui keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita di dalam. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa yang telah terjadi. Aku masuk ke dalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam ke arahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu, tetapi dicegah oleh suamiku. Dia menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yang tidak kalah tajam dariku. Suara detak jantungku terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian. Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka. Jika tidak, mungkin aku akan jatuh bersama calon bayiku di hadapan mereka.

Malam itu dia tidak pulang ke rumah, seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi. Sepeninggal ibu, rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir.

Malam-malam berlalu, dia tidak kembali ke rumah.

Kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar. Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya.

Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi..., semua berlalu begitu saja.

Aku mulai hidup seorang diri, memeriksakan kandungan juga seorang diri.

Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang  memeriksakan kandungan, hatiku serasa hancur.

Teman- teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti orang histeris mempertahankan milikku. Ini adalah sebagai pembuktian kepada ibu bahwa aku tidak bersalah.

Suatu hari pulang kerja, aku melihat dia duduk di depan ruang tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas di atas meja. Tanpa perlu bertanya, aku sudah tahu apa isi surat itu. Selama 2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya,"Tunggu sebentar, aku akan segera menandatanganinya."

Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan, demikian juga aku. Aku berkata pada diri sendiri
,"Jangan menangis, jangan menangis." Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.

Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yang agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menandatangani surat itu dan menyodorkan kepadanya. Dengan nada ragu-ragu, dia bertanya,"Lu di, kamu hamil....???"

Semenjak ibu meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku.

Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg mengalir keluar dengan derasnya. Aku menjawab,"Iya,  tetapi tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi."

Tapi dia tidak pergi. Entah apa yang berkecamuk di dalam pikirannya. Dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia merebahkan badannya ke lenganku. Air matanya terasa menembus lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa kembali. Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata,"Maafkan aku, maafkan aku."

Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan. Di antara cinta kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya. Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadap suamiku,hatiku dingin bagaikan es. Aku tidak pernah menyentuh semua makanan pembeliannya. Aku tidak sudi lagi menerima semua hadiah pemberiannya. Aku juga tidak berbicara lagi dengannya.

Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.

Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, tapi aku segera berlalu ke ruang tamu, dan dia terpaksa kembali ke kamar ibu.

Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa..., itu adalah dulu, saat cintaku masih membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?

Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang.

Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar.

Malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer, diselingi dengan erangan kesakitan. "Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya," pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.

Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yang keras. Dia segera berlari masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan dibawa dengan taxi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yang mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit,aku segera digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yang kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?
Sampai di pintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang. Saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Inilah saatnya aku memutuskan untuk memaafkannya. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang tangannya. Dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum, dan menangis lalu tiba-tiba terjerambab ke lantai.

Aku berteriak histeris memanggil namanya.

Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya....

Aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya. Tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit saat ini.

Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjizat. Menurut dokter, kanker itu sudah terdeteksi sejak 5 bulan yang lalu dan dokter memintaku untuk bersiap- siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Aku tidak lagi peduli dengan nasihat perawat. Aku segera pulang ke rumah dan menyalakan komputer di kamar ibu.

Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku salah berpikir dia sedang bersandiwara….

Sebuah surat yang sangat panjang ada di dalam komputer yang ditujukan kepada anak kami.
"Anakku, demi dirimu aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku.Aku tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan.Sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Di dalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasihat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkansaran ayah. Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun-tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu,dia sungguh menderita,dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yang paling ayah cintai."

Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK, SD, SMP, SMA, sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya.

Dia juga menulis sebuah surat untukku,"Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yang paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku.Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini.
Aku tidak punya kesempatan untuk memberikan  hadiah-hadiah ini pada anak kita. Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya."

Air mataku tak kunjung berhenti saat membaca surat itu. Aku menyesali kekerasan hatiku selama ini.

Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak kami dan membaringkannya di atas dadanya sambil berkata,"Sayang, bukalah matamu sebentar saja,lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya."

Dengan susah payah dia membuka matanya dan tersenyum. Anak itu tetap dalam dekapannya. Tangannya yang mungil memegangi tangan ayahnya yang kurus dan lemah. Aku tidak tahu sudah berapa kali aku menjepret momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata....


Teman-teman terkasih, aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua bisa menyimak pesan dari cerita ini. Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, tapi ingatlah pesan dari cerita ini:
"Jika ada sesuatu yang mengganjal di hati di antara kalian yang saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah. Jangan simpan di dalam hati. Siapa tahu apa yg akan terjadi besok?"

Ada sebuah pertanyaan: Jika kita tahu besok adalah hari kiamat,apakah kita akan menyesali semua hal yang telah kita perbuat? Atau apa yg telah kita ucapkan?

Sebelum segalanya menjadi terlambat, pikirlah matang-matang semua yang akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.
Sumber : www.dunianlp.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar